• November 25, 2021
Agustinus-Adisucipto-Pendidikan-Perjuangan-Perjalanan-dan-Akhir-Hidup

Agustinus Adisucipto: Pendidikan, Perjuangan, Perjalanan dan Akhir Hidup

Agustinus Adisucipto adalah Komodor Udara Indonesia dari Salatiga.

Adisucipto adalah satu-satunya orang dengan ijazah Groote Militaire Brevet atau penerbang saat itu.

Maka ia ditugaskan untuk memimpin sebuah unit operasi yang berbasis di Maguwo.

Oleh karena itu, Adisucipto juga disebut sebagai pelopor utama pelatihan penerbangan di Indonesia.

Adisucipto juga dikenal sebagai bapak penerbangan Indonesia.

Dapatkan informasi, inspirasi, dan wawasan di email Anda.
email pendaftaran

Baca juga: Robert Wolter Mongisidi: Perjuangan dan Akhir Hidup
Kehidupan

Agustinus Adisucipto atau lebih dikenal Tjip lahir pada tanggal 4 Juli 1916 di Salatiga.

Ia adalah anak tertua dari Roewidodarmo, seorang pensiunan pemilik sekolah di Salatiga.

Semasa muda, Adisucipto gemar membaca buku-buku tentang filsafat dan filsafat militer, kemudian buku-buku olahraga.

Setelah lulus dari Sekolah Menengah Pertama atau Meer Uitgebreid Camp Onderwijs (MULO), Adisucipto ingin mengikuti ujian sekolah penerbangan di Kalijati.

Namun, permintaan ini ditolak oleh ayahnya, sehingga ia masuk ke Algeemene Middelbare School (AMS) di Semarang.

Setelah lulus pada tahun 1936, Adisucipto meminta kembali ayahnya untuk bersekolah di sekolah militer di Breda, Belanda.

Namun, ayahnya menyarankan dia untuk belajar kedokteran sebagai gantinya.

Merasa tidak ada harapan lagi, Adisucipto menuruti nasihat ayahnya. Ia belajar di Genneskundige Hooge School atau Sekolah Tinggi Kedokteran di Jakarta.

Baca juga: Yos Sudarso: Perjalanannya, Perannya, dan Akhir Hidupnya
kiprah

Meskipun Adisucipto adalah seorang siswa yang rajin selama studinya, pikirannya tetap “di udara”.

Oleh karena itu Adisucipto diam-diam mengikuti tes masuk Sekolah Militaire Luchtvaart Opleidings atau Sekolah Penerbangan Militer di Kalijati.

Ia lulus dengan hasil yang sangat memuaskan. Karena hasil ini, ayahnya akhirnya mengizinkan Adisucipto untuk belajar di sekolah penerbangan.

Kini impian Adisucipto menjadi kenyataan, ia mencurahkan seluruh perhatiannya pada bidang impiannya.

Setelah menyelesaikan tahap pertama, Adisucipto diterima sebagai taruna penerbangan.

Bersama sembilan siswa lainnya, Adisucipto mencapai level Vaandrig Kortverbang Vlieger atau calon Letnan Muda Pilot Obligasi Pendek.

Namun karena saat itu masih ada diskriminasi antara Belanda dan Indonesia, hanya lima dari 10 siswa yang lulus.

Kelima orang ini mencapai tingkat Brevet Militaire Klein atau Brevet Penerbang Tingkat Pertama.

Dari lima orang tersebut, hanya dua yang berhasil mendapatkan Groot Militaire Brevet atau Brevet Penerbangan Tingkat Atas, yakni Agustinus Adisucipto dan Sambudjo Hurip.

Sejak Adisucipto menjadi pilot, kariernya melejit. Ia diangkat menjadi ajudan Kapitein (Kolonel) Clason, seorang perwira di KNIL Angkatan Udara di Jawa.

Jabatan ini dipegangnya sampai Jepang datang ke Indonesia pada tahun 1942.

Selama pendudukan Jepang, semua mantan pilot KNIL dipecat. Adisucipto kembali ke rumah orang tuanya di Salatiga.

Di sana ia bekerja sebagai pegawai perusahaan angkutan bus (Jidosya Jimukyoku).

Baca juga: Abdulrachman Saleh: Masa Kecil, Peran dan Akhir Hidupnya
berjuang

Ketika revolusi pecah, Adisucipto pindah ke Yogyakarta.

Di sana, karena pengumuman pemerintah pada tanggal 5 Oktober 1945, dibentuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR) untuk bidang penerbangan di markas tertinggi TKR.

Seksi ini mempunyai tugas membangun dan mengatur penerbangan militer.

Soerjadi Soerjadarma, perwira lulusan Akademi Militer Breda, diangkat menjadi Komodor Udara.

Kemudian dia memanggil Adisucipto untuk membantu mengatur kekuatan di udara.

Soerjadarma juga memanggil semua mantan pilot KNIL ke Jawa.

Pada bulan Desember, Oerip Sumohardjo, Kepala Staf Umum Tentara Nasional Indonesia (TNI atau TKR), memerintahkan komandan untuk segera mengklasifikasikan semua bahan dan pilot dan melapor ke Markas Besar Umum (MBU).

Setelah pengumuman ini, Adisucipto kemudian dipromosikan menjadi Komodor Udara Muda. Dia diberi tugas untuk mengambil alih semua bahan, staf dan instalasi.

LIHAT JUGA :

pcpm35rekrutmenbi.id
indi4.id
connectindonesia.id